Perbedaan ISBN vs QRCBN: Mana Identitas yang Paling Pas untuk Buku Baru Anda?

Kalau Anda sering mampir ke toko buku atau perpustakaan, coba deh iseng balik buku ke bagian sampul belakang. Di sana pasti ada kotak putih berisi baris angka dan garis-garis vertikal hitam. Ya, itu namanya ISBN.

Tapi, belakangan ini di jagat perbukuan Indonesia, ada “pemain baru” yang bentuknya kotak-kotak berpola alias QR Code, namanya QRCBN. Banyak penulis, terutama yang baru mau menerbitkan buku perdana, mendadak bingung: “Lho, sekarang kalau terbitin buku pakai yang mana? Apa bedanya? Terus mana yang lebih sah?”

Biar gak tersesat di tengah rimba regulasi, yuk kita obrolin perbedaan mendasar antara ISBN dan QRCBN ini, termasuk fakta jujur kalau Anda ingin buku Anda eksis di Google Books dan Google Scholar!

Kenapa Tiba-Tiba Ada QRCBN? (Sebuah Cerita Singkat)

Dulu, semua buku yang terbit lewat penerbit resmi hampir selalu pakai ISBN (International Standard Book Number). ISBN ini ibaratnya “KTP” skala internasional untuk buku, yang dikeluarkan resmi oleh Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI yang tersambung ke lembaga internasional di London.

Namun, beberapa tahun terakhir ini, aturan Perpusnas jadi super ketat. Kenapa? Karena kuota ISBN dari internasional untuk Indonesia sempat dibatasi akibat banyaknya laporan buku yang didaftarkan tapi ternyata fiktif atau hanya untuk kepentingan internal yang tidak disebarluaskan. Akibatnya, proses antrean pengajuan ISBN jadi panjang, seleksinya ketat, dan banyak buku-buku fiksi indie atau buku komunitas yang kesulitan mendapatkan nomor ini.

Melihat kondisi tersebut, lahirlah QRCBN (Quick Response Code Book Number) sebagai solusi alternatif digital yang diinisiasi oleh ekosistem perbukuan nasional (termasuk jaringan IKAPI DKI). Tujuannya mulia: agar penulis tetap bisa merilis karyanya dengan identitas yang tercatat resmi tanpa harus terjebak antrean panjang ISBN.

Apa Saja Perbedaan Nyatanya?

Mari kita bedah secara langsung apa saja yang membedakan kedua identitas buku ini dari berbagai aspek:

1. Masalah “KTP” vs “Paspor”

ISBN itu ibarat paspor internasional. Buku Anda terdata di sistem global. Jaringannya terhubung ke toko buku fisik raksasa dan perpustakaan daerah/negara.

QRCBN itu seperti kartu identitas komunitas digital yang sah secara nasional. Begitu QR Code-nya di-scan pakai kamera HP, pembaca akan langsung diarahkan ke halaman web yang berisi data lengkap buku Anda, mulai dari judul, nama penulis, sinopsis, hingga nama penerbitnya.

2. Urusan Angka Kredit (Buat Para Dosen & Guru)

Ini poin krusial! Kalau Anda seorang akademisi (dosen atau peneliti) yang menulis buku monograf atau buku referensi untuk mengejar kenaikan pangkat atau Angka Kredit (KUM), ISBN hukumnya wajib. Hingga saat ini, sistem penilaian akademis kita masih mensyaratkan ISBN sebagai bukti orisinalitas buku ilmiah. QRCBN belum diakomodasi penuh untuk urusan poin akademis ini.

3. Bagaimana di Google Books? Apakah Nomor QRCBN Bisa Dipakai?

Ini fakta penting yang wajib diketahui para penulis: Sistem Google Books sama sekali tidak mengenal dan tidak bisa menerima nomor QRCBN.

Jika Anda membuka dasbor resmi Google Books Partner Center untuk menambahkan buku baru, pada kolom “Pilih ID Buku” hanya ada dua menu pilihan mutlak:

  • Gunakan ISBN atau EAN
  • Dapatkan ID buku Google (GGKEY)

Artinya, nomor QRCBN Anda tidak bisa diinput ke dalam sistem identitas Google.

Lalu, apakah bukunya tetap bisa di-upload? Bisa, tapi statusnya disamakan dengan buku non-ISBN. Anda harus memilih opsi kedua, yaitu “Dapatkan ID buku Google (GGKEY)”. Dengan opsi ini, Google akan mengabaikan nomor QRCBN Anda dan menerbitkan kode pengenal acak internal buatan Google sendiri (GGKEY) agar buku Anda tetap bisa dipublikasikan atau dijual di platform mereka.

4. Bagaimana dengan Indeksasi di Google Scholar?

Bagaimana pengaruhnya untuk para akademisi yang ingin karyanya terindeks dan disitasi di Google Scholar?

Buku yang memiliki ISBN resmi memiliki “jalur tol”. Begitu di-upload ke Google Books dengan nomor ISBN-nya, robot crawler Google Scholar akan otomatis mengenali dokumen tersebut sebagai “Buku Resmi” yang valid, sehingga indeksasinya berjalan mulus.

Sebaliknya, buku dengan QRCBN (yang di sistem Google Books terpaksa didaftarkan dengan kode internal GGKEY karena tidak punya ISBN) tidak akan dikenali sebagai buku resmi secara otomatis oleh Google Scholar. Penulis biasanya harus memasukkan data buku tersebut secara manual ke profil Scholar mereka agar bisa dilacak, dan reputasi indeksasinya tidak sekuat buku ber-ISBN.

Jadi, Naskah Saya Sebaiknya Pakai Yang Mana?

Gak usah pusing, rumusnya sederhana kok. Sesuaikan saja dengan tujuan penulisan buku Anda:

Pilih ISBN jika: Anda menulis buku ilmiah/akademis untuk keperluan KUM, ingin buku fisik Anda dipajang di rak toko buku nasional, atau ingin naskah Anda terdata secara valid dengan identitas global saat di-upload ke Google Books dan Google Scholar.

Pilih QRCBN jika: Anda menulis novel indie, buku antologi puisi bersama komunitas, atau buku non-fiksi populer yang pasarnya akan Anda garap sendiri lewat media sosial dan marketplace. Buku Anda tetap bisa masuk ke Google Books, asalkan Anda rela mendaftarkannya lewat jalur “Tanpa ISBN” menggunakan kode GGKEY bawaan Google.

Di Karyanirwasita, kami sangat memahami dilema ini. Anda tinggal cerita saja ke kami apa target dari buku yang ditulis, dan tim kami yang akan mengarahkan serta mengurus seluruh proses administrasinya sampai beres. Beres, kan?